Cara Mengobati Prolapsed Eye Pada Kucing


Drh. Arief Febriwan A.R dan Drh. Nelma Sari
17 Februari 2021

ENUKLEASI PROLAPSUS BULBUS OCULI PADA KUCING Domestik (FELIS DOMESTICUS)

P
endahuluan

       Prolapsus maupun protosis
bulbus oculi
merupakan kondisi bola mata nan keluar dari rongga mata (Mtchell, 2008). Keadaan ini yakni kasus mata yang terjadi karena tumbukan maupun trauma benda tajam dan ki beku, alias terjadi karena perkelahian. Tekanan sreg lengkung zigomatik akan mendorong bola mata keluar dari palpebra (Tilley dan Smith, 2002). Menurut Fossum (2010), kebutaan akibat protopsis terjadi pada 60-70% plong cengkok dan 100% pada kucing. Bola mata prolaps ataupun protopsis bulbi (keluar bola mata dari rongga mata) boleh disertai perdarahan subkonjungtiva sampai dengan putusnya nervus optic. Situasi ini biasa terjadi puas kasus kecelakaan atau penolakan (Yunithyaningsih, 2015).

       Umumnya prolapsus
bulbus oculi
pada hewan boncel baik ketek dan kucing terjadi akibat traumatik, infeksi, tabrakan dan neoplasia (Fossum et al., 2013). Sekiranya alat penglihatan terlihat menonjol, konjungtiva merah dan bengkak secara tiba-tiba menunjukkan halkum darah arteri mata masih dalam kondisi baik hanya pada halkum darah vena sudah lalu mengalami penyumbatan, kornea akan mengalami kekeringan dan rusak, demikian pula saraf mata mengalami kerusakan nan tidak bisa disembuhkan sehingga dapat menyebabkan kebutaan permanen (Kirk N dan Gellat., 2011). Oleh karena itu, tulisan ini menyajikan penanganan kasus lega kucing kampung (Felis

d
omesticus) nan mengalami prolapsus bola mata dan dilakuan tindakan propaganda pengangkatan bola mata.

L
aporan Kasus

Sinyalemen dan

A
namnesa

         Pada tanggal 19 Desember 2019 pasien datang ke Puskeswan Kota Bukittinggi. Klien yang bernama Reni beralamat di kelurahan Birugo, membawa seekor kucing bernama Moeza berumur 8 bulan warna kuning-asli dengan rumit 2,1 kg.

Pemeriksaan Bodi

         Berdasarkan hasil pemeriksaan terbantah adanya penonjolan biji mata episode dexter dan keluar dari rongga alat penglihatan, bengkak dan kelihatan bernanah. Gejala klinis yang terbantah pada prolapsus
bulbus oculi
adalah keluarnya biji mata boleh terlihat
shock
atau terlebih terjadi gangguan syaraf akibat traumatik yang terjadi pada nervus optic. Dapat disertai peradangan, perdarahan,
ulcer
pada kornea mata, ukuran manik mata yang abnormal dan pecahnya bola mata. Adanya lesi disekitar rongga orbita sehingga bola mata kelihatan menonjol keluar dan adanya peningkatan tekanan di dalam sinus mata. Tekanan ini bisa memengaruhi syaraf optik, yang lega akhirnya mengganggu pandangan (Peiffer dan Simons, 2002).

       Beberapa gejala yang menyertai kelainan pada mata merupakan eksudat puas mata, kesakitan sreg ain, salutan di atas alat penglihatan, mata berkabut, alat penglihatan keras alias sabar, iritasi pada pelupuk netra, mata menonjol atau terbenam, pergerakan mata abnormal, dan pertukaran rona pada alat penglihatan (Eldredge dkk., 2008). Menurut sifat eksudatnya, peradangan lega mata bisa diklasifikasikan menjadi supurative, non supurative dan granullomatous. Peradangan bola mata agak pelik ditentukan karena pada stadium mulanya reaksi peradangannya kian sering bersifat suppurative, sekadar stadium lanjut bisa berubah menjadi non suppurative (Kardena, 2010).

Pemeriksaan Laboratorium

       Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pengawasan Complete Blood Count (CBC). Hasil pengawasan CBC dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan darah kucing

Test

Result

Units

Reference range

Level

WBC

102.910

 103/µL

5.5 – 19.5

High

LYM

64.7

%

20.0 – 55.0

High

GRAN

25.0

%

35.0 – 95.0

Low

HGB

7.9

g/dL

8.0 – 15.0

Low

HCT

43.7

%

29.0 – 45.0

Normal

RBC

6.24

106/µL

6.0 – 10.0

Resmi

MCV

53.1

Fl

39.0 – 55.0

Legal

MCH

9.5

pg

13.3 – 17.6

Low

MCHC

180

g/dL

31.0 – 35.0

High

PLT

2050

103/µL

230 – 600

High

Hasil pemeriksaan talenta beralaskan grafik di atas pada pasien Tralala menunjukkan pertambahan pada jumlah leukosit, limfosit, MCHC dan platelet. Kuantitas eritrosit, MCV dan hematokrit normal. Sedangkan hemoglobin rendah.  Rendahnya atau menurunnya salah satu dari parameter eritrosit, nan meliputi besaran eritrosit, konsentrasi Hb, dan skor hematokrit, internal sirkulasi talenta disebut anemia. Anemia merupakan kondisi patologis akibat menurunnya kapasitas angkut O2. Anemia tak ialah problem melainkan gejala klinis, kebanyakan muncul sebagai respons sekunder akibat adanya penyakit ataupun provokasi fungsi radas. Hal anemia merupakan salah suatu bujukan respon eritrosit nan paling sering dijumpai lega fauna monyet dan meong (Jain, 1993).

Baca :   Pajak Deposito Bank Mandiri

Diagnos
is dan Prognosis

Diagnosis dilakukan dengan melihat tanda klinis dan didukung dengan penapisan fisik. Hasil inspeksi menyatakan bahwa telah tidak aktif dan terdapat darah yang mongering intern sinus alat penglihatan. Berdasarkan hasil tersebut, kucing didiagnosa mengalami plolapsus bola indra penglihatan dengan prognosa dubius.

Pelaksanaan operasi

       Bojrab (1983) mengatakan bahwa penyakit mata tanpa keterlibatan isi orbital lain dan yang tidak ada terapi kedokteran maka tindakan enukleasi adalah satu – satunya pengobatan pilihan. indikasi spesifik kerjakan enukleasi meliputi 1.
mikrophtalmia kongenital
atau didapatnya
phthisis
yang kebolehjadian tak adanya penglihatan kembali dan ki kesulitan kronis pada pasien seperti keratitis, konjungtivitis, atau entropion. 2. Peradangan puas
sclera
atau
cornea
tak responsif lagi terhadap terapi medis karena sudah kehilangan penglihatan. 3.
Neoplasma intraokular, sehingga bukan bisa dilakukan eksisi lokal atau perawatan lain. 4. Trauma pada bola ain yang cukup parah sehingga bagian internal mata sudah lalu hilang dan  lapisan asing fibrosa tak dapat direkonstruksi. 5.
Proptosis, dengan terputusnya otot dengan tenggorokan talenta dan kebinasaan saraf optik  Bersendikan indikasi tunggal menunjukkan bahwa terapi dengan rahmat obat tidak bisa dilakukan,  cara penanganannya hanya dengan enukleasi.

Metode aksi dimulai dengan tindakan premedikasi menunggangi atropin sulfat dengan dosis 0,02-0,04 mg/kg BB secara subkutan buat mencegah terjadinya muntah, hipersalivasi dan sebagai sedatif. Anestesi yang digunakan adalah perhubungan ketamin dengan dosis minimum 10-40 mg/kg BB dan xylazin dengan dosis 1-4 mg/kg BB secara intramuscular . Apabila pasien telah memasuki stadium anastesi, dilakukan pencukuran rambut–rambut yang gemuk disekitar orbita fragmen dexter hingga kalis, kemudian area gerakan didesinfeksi dengan alkohol 70% dan iodium tincture 3% secara sirkular dari dalam keluar. Sehabis itu pasien diletakkan di atas meja operasi dengan posisi
late
ral recumbency
dan operasi enukleasi dapat dimulai.

Efek xylazin pada fungsi fotosintesis biasanya tidak kelihatan dengan jelas, belaka pada dosis nan tataran dapat mengimpitkan respirasi sehingga terjadi penurunan tagihan tidal dan pernapasan rata-rata (Plumb, 1991). Penggunaan kombinasi tersebut juga mempunyai banyak keuntungan, antara lain mudah dalam pemberian, cermat, induksinya cepat seperti itu pun dengan pemulihannya, memiliki pengaruh relaksasi yang baik dan jarang menimbulkan komplikasi klinis (Benson yang disitasi oleh Yudaniayanti, 2010). Selepas pasien teranestesi, diletakkan di meja gerakan dengan posisi
lateral recumbency.

       Setelah didesinfeksi dengan alkohol dan iodium tinctur secara sirkular, operasi dimulai dengan sayatan melingkar plong tepi palpebra atasan dan kelas bawah atau sekitar 5 mm berusul tepi kedua palpebral. Setelah itu dilanjutkan dengan penyayatan pada otot-otot ekstraokuler dengan hati-hati kemudian preparasi otot-urat ekstraokuler yang melekat pada siring palpebra dan sklera menggunakan gunting, dapat dilihat plong Gambar dibawah ini :

Gambar 1. Sayatan melingkar pada kedua riol palpebra pejabat dan

       papan bawah (pengarsipan pribadi)

2.jpg

Tulang beragangan 2. Musculus disekitar

                    indra penglihatan di potong

Gambar 3. Pupil diangkat, kempa nervus opticus dan

                    buluh talenta dan ligasi

Kemudian bagi pemotongan diatas ligasi, nervus optikus, aur bakat dan mata diangkat, pastikan tidak ada kebocoran puas ligasi kemudian bersihkan sisa talenta dengan bendaharawan kudrati bilas menggunakan penstrep, dapat dilhat puas rancangan di bawah
:

3.jpg

Tulangtulangan 4. Nervus dan buluh talenta diligasi lalu dipotong

4.jpg

Gambar 5. Bola mata di sanggang dan dikeluarkan dari rongga orbita

       Potong cacat ujung palpebra pemimpin dan papan bawah, semprotkan penstrep dan iodin, jahit dengan benang
chromic cat gut
dengan  pola subkutikular (Pada
Rang 9).

Baca :   Gambar Bunga Lukisan Pensil

5.jpg

Gambar 9. Otot –otot ekstraokuler periorbita dijahit dengan lawai silk teladan interupted,

        dan indra peraba dengan silk pola interupted.

Perlindungan Pasca Manuver

       Setelah operasi selesai, pasien ditempatkan di kandang nan kersang dan zakiah. Situasi ini berujud agar proses pengobatan jejas lain terkontaminasi oleh bakteri dan serat yang dapat menghambat proses pengobatan karena tempat nan lembab dan kumuh. Pasien dipasangkan
elizabeth collar

pada bagian leher. Area jahitan secara rutin dibersihkan dengan menekan-nekan distrik usaha secara perlahan, hal ini bertujuan untuk mengurangi akumulasi cairan yang bisa menghambat penyembuhan

       Pengobatan yang diberikan ialah antibiotik nyata amoxicillin tablet dengan rentang waktu 12 jam setiap pemberiannya nan diberikan selama 5 hari. Antibiotik adalah fusi kimia organik yang mampu membunuh atau membendung pertumbuhan bakteri (Josef
et al., 2007). Gizi C sebagai terapi suportif dan dexamethasone tablet seumpama antiinflamasi dengan rentang hari 24 jam setiap pemberiannya nan diberikan selama 3 hari.

       Dexamethasone merupakan kortikosteroid dari golongan glukokortikoid nan memiliki efek berlawanan-inflamasi yang adekuat. Pemberian dexamethasone akan menekan pembentukan bradikinin dan pun pelepasan neuropeptida dari ujung-ujung saraf, peristiwa tersebut dapat menimbulkan rangsangan nyeri lega jaringan yang mengalami proses inflamasi. Penekanan produksi prostaglandin maka itu dexamethasone akan menghasilkan efek analgesia melangkaui penghambatan senyawa enzim cyclooksigenase di jaringan perifer raga. Kortikostreoid merupakan anti-inflamasi yang bekerja dengan mekanisme menghambat enzim fosfolipase A2 sehingga akan mencegah pelepasan asam arakidonat yang memproduksi enzim cyclooxygenase (COX). Enzim COX inilah yang bertanggung jawab atas pembentukan prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi dan remai (Erlangga
et al., 2015).

       Menurut Sofyani
et al.,
(2018), amoksisilin merupakan suatu antibiotik semisintetik penicillin yang memiliki cincin β-laktam punya aktivitas bak antibakteri yang disebabkan makanya mikroorganisme yang rentan. Amoksisilin termaktub antibiotik radius luas dan memiliki bioavailabilitas oral yang panjang. Antibiotik amoksisilin ini sekali lagi dapat digunakan pada pengobatan radang paru-paru dan penyakit lain, tersurat infeksi bakteri pada kuping, tenggorokan, rongga, kulit, saluran kemih, abdomen dan darah.

       Umpama terapi suportif, vitamin C main-main n domestik terapi luka, kotong tulang, perdarahan di bawah indra peraba dan perdarahan gusi (Almatsier, 2009). Inflamasi adalah putaran baku dari proses penyembuhan luka, dan penting untuk menzabah mikroorganisme terkontaminasi (Said
et al., 2013). Zat makanan C meningkatkan sistem imun pasien pasca manuver dan membantu proses senyawa pada kolagen kerjakan proses penyembuhan luka.

Konklusi dan Saran

Kesimpulan

       Tindakan nan tepat buat menangani kasus prolapsus
bulbus oculi
yaitu dengan enukleasi apabila penanganan dengan rahmat penawar-obatan minus propaganda tak memungkinkan.  Enukleasi dapat dilakukan sreg bola mata yang sudah mengalami kehancuran dan tidak dapat disembuhkan. Teknik yang dilakukan yaitu dengan menyanggang bola netra menggunakan metode pengangkatan transpalpebra.

S
aran

       Sebaiknya bagi diagnosa awal secara tepat sepatutnya dapat dilakukan penanganan dan tindakan yang tepat  cak bagi kasus prolapsus
bulbus oculi. Serta pemeliharaan  pasca kampanye dan pemberian remedi-obatan dilakukan secara intensif agar luka setik loyal terlatih serta tidak terjadi infeksi pada luka pasca persuasi.

D
aftar Wacana

Maskulin, K. 2011. Opthalmology in approach to common eye conditions.
Journal Veterinary Opthalmology. (3) : 13-18.

Almatsier, S. 2009.
Prinsip Pangkal Hobatan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Bacaan Umum.

Archibald, J. 1974. Canine surgery, American Veterinary Publication.INC. USA Martin, Charles L., 2010.
Opthalmic Disease in Veterinary Medicine.

Bentley, E. 2013. How to perform transpapebral enucleation.
J
.

Vet

.

Derita

d
.
(8) : 50-55.

Birchard, S.J., and  R.G. Sherding. 2000.
Saunders Manual of Small Animal Practice.
2nd Edition. WB Saunders Company, Philadelpia, USA.

Eldredge, D.M., D.G. Carlson, L.D. Carlson, and J.M. Giffin. (2008).
Pewarna Owner’s Home Veterinary Handbook.
3rd Edition. Willey Publishing Inc, New Jersey.

Baca :   Lowongan Kerja Pabrik Sepatu Sidoarjo

Erlangga, M.E., R.H. Sitanggang., Lengkung langit. Bisri. 2015. Perbandingan pemberian deksametason 10 mg dengan 15 mg intravena bagaikan adjuvan analgetik terhadap skala ngilu pascabedah pada pasien yang dilakukan radikal mastektomi termodifikasi. Buletin Anestesi Perioperatif. 3(3) : 146-54.

Fossum, T.W., C.W. Dewey., C.V. Horn., A.L. Johnson., C.M. MacPhail., M.G. Radlinsky., K.S. Schulz dan M.D. Willard. 2013.
Small Animal Surgery
4th
Edition. Elsevier: St. Louis, Missouri.

Fossum, Tepi langit.W. 2019.
Bedah Fauna Mungil
. 5th Edisi. Elsevier. P: 291-301.

Fowler ME. 1993.
Wild Life Medicine Caurse.
USA: Directorate General of Livestock Services.

Gelatt, K.N., and J.P. Gelatt. 2011.
Veterinary Opthalmic Surgery. Elsevier Ltd. Amsterdam Belanda.

Gelatt, K.T. (2018).
Eye Structure and Function in Cat. MSD Manual Veterinary Manual, University Folrida.

Gorda, I. W., dan G.J. Wardhita. 2010. Perbandingan waktu induksi, durasi dan pemulihan anestesi dengan penambahan premedikasi atropin-xylazin dan atropindiazepam bagi anestesi umum ketamin pada butuh merpati (Columba

l
ivia).
Surat kabar Veteriner Udayana. 2(2) : 93-100.

Gunawan, G.S., S. Tepi langit. Rianto, dan Elysabeth pengedit. 2009.
Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Departemen Ilmu obat dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Jain, N.C. (1993).
Essential of Veterinary Hematology. Lea and Febringer,             Philadelphia.

Jozef, V.K., dan R. Hromadova. (2007). Analysis of antibiotic utilization in hospitalized paedatric patients.
Journal of Chinese Medichine. 2(9) : 496- 503.

Kardena, I.M. (2010).
Sistem Mata dan Telinga. Laboratorium Patologi Veteriner Jamiah Udayana, Denpasar.

Karl, A.S., L.S. Robert, and M. Susan. (2009). A modified subconjunctival enucleation technique in dogs and cats.
J
.

Vet

.

Med.

(1) : 11-15

Kartini, C., A. Efendi, Herlina, M.A. Putra. (2017).
Coretan Dokter Sato



Pemeriksaan Fisik pada Netra, Telinga, Kardiorespirasi dan Sungai buatan



Pencernaan. PT. IPB Press. Bogor.

Lukiswanto, B.S., dan W.S Yuniarti. (2013).
Pemeriksaan Fisik pada Anjing dan Kucing. Buku Penerbitan dan Percetakan Unair, Surabaya.

Mariandayani, H.N. (2012). Keragaman kucing domestik (Felis domesticus) bersendikan morfogenetik.
Jurnal Peternakan Sriwijaya. 1(1) : 10-19.

Meadows G., dan E. Flint. (2006).
Kancing Pegangan bagi Tuan Meong.
Batam : Karisma Publishing Group.

Mitchell, Cakrawala. (2008). Enucleation in Companion Animals.
Ir
.

Vet

.

J.

(2) :108-114.

Narfstrom, K. (1999). Review Hereditary and Congenital Ocular Discase in The Cat.
JF
MS
.
(3):135-141.

Nurheti, Y. (2007).
Jiwa Segar Bersama Binatang Kesayangan. Andi Press, Yogyakarta.

Peiffer, R.L. and K.B.Simons.(2002).
Ocular Tumor In Animals and Humans. Iowa State Press. Chicago.

Plumb, D. C. (1991).
Veterinary Drug Handbook. Minnesota: Pharma Vet Publishing.

Retina, Y., Era, H.M., Desty, A. (2015). Perbedaan efektivitas anastesikum antara zoeletil-acepromacin sreg tikus kalis (Rattus norvegicus).
Kronik Kajian Veteriner. 3(2).

Said, S., N.A. Taslim dan B. Bahar. (2013). Gizi dan Penyembuhan Luka. Indonesia Academic Publishing, Makassar.

Sektiari, B., dan M.Y Wiwik. (2001). Pengaruh premedikasi aceptropomazine terhadap impitan intraokuler pada anjing yang di anastesi ketamin HCl.
Wahana Kedokteran Satwa. 17(3) : 120-122.

Slatter, D. (2001).
Fundamental of veterinary ophthalmology.
3rd Edition. Elsevier Saunders Publishing, Philadelphia.

Sofyani, C.M., Tepi langit. Rusdiana, dan A.Y. Chairunnisa. (2018). Pembuktian metode analisis kromatografi cair manifestasi strata untuk penetapan kadar uji disolusi terbanding tablet amoksisilin.
Kronik farmaka. 16(1) : 324-330.

Sumita, C.Tepi langit. (2012). Penetapan gengsi kesehatan kucing kampung (Felis domesticus) melalui pemeriksaan leukosit.
Skripsi. FKH IPB.

Susanty, Y. (2005).
Memilih dan Merawat Kucing Kesayangan.
Jakarta: Agro Media Pustaka.

Turner DC., dan Bateson P. (2000).
The Domestic Pewarna, The Biology of Its Behaviour.
Cambridge: Cambridge University Pr.

Yudaniayanti, I.S., M. Erfan dan M. Anwar. (2010). Profil penggunaan wasilah ketamin-xylazine dan ketamin-mediazolam sebagai anastesi umum terhadap gambaran fisiologis awak pada kucing tupai jantan.
Veterinaria Medika. 3(1).

Yunithyaningsh, R. (2015). Mata Prolapse.
Kata sandang Klinik Hewan Vitapet, Jakarta Lor.

Cara Mengobati Prolapsed Eye Pada Kucing

Source: http://disnak.sumbarprov.go.id/info/detil/100/enukleasi-prolapsus-bulbus-oculi–pada-kucing-domestik-%28felis-domesticus%29.html

Check Also

Bunga Kembang Sepatu Dan Bagian Bagiannya

Bunga Kembang Sepatu Dan Bagian Bagiannya. 5 menit Bagian fragmen bunga memiliki fungsinya masing-masing. Semuanya …