Puisi Karangan Bunga Karya Taufik Ismail

Syair Taufik Ismail – Taufiq Ismail yakni seorang penyair dan sastrawan asal Indonesia bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935, sekarang berumur 83 tahun. Beliau sudah banyak mendapat pujian semenjak karya sastranya, salah satu karya Taufiq Ismail yang paling kecil terkenal adalah tembang berjudul Malu (Aku) jadi Orang Indonesia.

Karya – karya beliau sangat luar baku, setiap baitnya n kepunyaan makna yang dalam dan banyak karyanya nan memasrahkan tembung bagi generasi muda kerjakan selalu memperjuangkan spirit berbangsa buat memajukan bangsa ini menjadi lebih baik.

Ambillah, lakukan kalian yang sedang mencari karya puisi engkau. Saya telah menyiapkan puisi karya Taufiq Ismail secara lengkap. Berikut adalah 33 puisi karya beliau nan terkenal.

Sumber : Google Images


Tembang 1 : Kembalikan Indonesia Padaku

(Taufiq Ismail)
Paris, 1971

Perian depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut nan menganga,

Masa depan Indonesia adalah bola-bola bohlam 15 wat,

sebagian berwarna masif dan sebagian hitam,

Masa depan Indonesia ialah pertandingan pingpong siang malam

dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tergenang

karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah suatu juta sosok main pingpong siang malam

dengan bola telur angsa di radiks semarak bola lampu 15 wat,

Hari depan Indonesia yakni pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam

lantaran terik bebannya kemudian angsa-belibis berenang-renang di atasnya,

Hari depan Indonesia ialah dua ratus juta tuturan yang menganga,

dan di dalam mulut itu terserah bola-bohlam 15 wat,

sebagian tulen dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-dendang laut nirmala yang berenang-renang

sinkron main pingpong di atas pulau Jawa yang terbenam

dan membawa seratus juta bohlam 15 wat ke bawah lautan,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia yakni pertandingan tenis meja siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur dendang laut,

Masa depan Indonesia merupakan pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Masa depan Indonesia yaitu bola-lampu busur 15 wat,

sebagian berwarna nirmala dan sebagian hitam, yang berkobar bergantian,

Kembalikan Indonesia padaku




Puisi 2 :
Mencari Sebuah Mesjid

(Taufiq Ismail)
Jeddah, 30 Januari 1988

Aku diberitahu mengenai sebuah masjid

yang kusen-tiangnya pepohonan di pangan

fondasinya batu karang dan marmer pilihan

atapnya menjulang kancah tersangkutnya awan

dan kubahnya seruak pandang, berkilauan

digosok angin indra bayu n antipoda utara dan daksina

Aku rindu dan menjelajah mencarinya

Aku diberitahu tentang segenap dindingnya nan transparan

dihiasi dengan tatahan kaligrafi Alquran

dengan warna maskodok dan keemasan

berbentuk daun-daunan suntuk beraturan

serta sarang madu demikian geometriknya

ranting dan tunas jalin beranyam

berparut-parut rajah bagian angin

Aku rindu dan menjajah mencarinya

Aku diberitahu mengenai musala yang menara-menaranya

dan menyeru azan tidak adv amat-habisnya

membuat lingkaran mencantumkan pinggang marcapada

kemudian nadanya nan lepas-amnesti

disulam malaikat menjadi renda-renda utas emas

yang memperindah ratusan juta sajadah

di setiap apartemen tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah langgar yang letaknya di mana

bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya

sira berjalan sampai waktu asar

tak bisa kau capai banjar pertama

sehingga bila sira bukan cak hendak kehilangan waktu

bershalatlah di mana hanya

di lantai zawiat ini, yang luas luar legal

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu mengenai kolom di jihat mihrabnya

yaitu sebuah perpustakaan lain terkata besarnya

dan hamba allah-individu dengan tenang membaca di dalamnya

di bawah gantungan lampu-bola lampu kristal terbuat mulai sejak berlian

nan menggudangkan cahaya matahari

kau lihat bermilyar huruf dan perkenalan awal turut beraturan

ke jalinan syaraf kunci khalayak dan jadi ilmu yang berguna

di sebuah pustaka nan bukunya berjuta-juta

terwalak di sebelah cak lari mihrab masjid kita

Aku kangen dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang berengku dan pangsa dalamnya

palagan makhluk-manusia bersila bersama

dan bermusyawarah tentang bumi dengan hati terbuka

dan pendapat bisa farik namun minus pertikaian

dan jikalau pun suka-suka pertikaian bisalah itu diuraikan

dalam simpul persaudaraan nan sejati

dalam hangat zawiat yang itu juga

terpampang di sebuah surau yang mana

Di manakah dia gerangan letaknya ?

Puas satu hari aku mengajuk syamsu

ketika di puncak tergelincir anda sempat

lewat seperempat kuadran roboh ke barat

dan terdengar merdunya seruan salat di pegunungan

dan aku pun melayangkan pandangan

mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan

detik seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan

Inilah dia masjid nan dalam pencarian tuan¡

dia menunjuk ke petak tipar itu

dan di atas lahan pertanaman ia bentangkan

kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran

airnya bening dan cahang mengalir beraturan

tanpa kata dia berwudhu duluan

aku pula di asal air itu menampungkan tangan

momen kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan

hangat air terasa, bukan dingin kiranya

bersatu dengan air mataku




Puisi 3 :
Seorang Tukang Rambutan jantan Pada Istrinya


Tadi siang ada yang lengang,

Dan yang mengantar banyak sekali

Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah

Yang dulu berteriak: dua ratus, dua dupa!

Setakat bensin pun turun harganya

Sampai kita boleh mendaki bis pasar nan murah juga

Mereka kehausan datam panas sungguh

Terbakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan jantan kita, bu

Biarlah sepuluh ikat pula

Memang sudah lalu tembolok mereka

Mereka berkoar-koar kegirangan dan berebutan

“Hayat tukang rambutan aceh!” Hidup tukang rambutani

Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya

Dan ada nan turun dari truk, bu

Berburu dan menyalami saya

Hidup pak rambutan lekang sorak mereka

Saya dipanggul dan diarak-arak sejurus

“Hidup pak rambutan!” sorak mereka

Syukur, pak, peroleh kasih!

Bapak sejadi karni, bukan?

Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara

Doakan pertempuran kami, pak,

Masih melaungkan terima kasih mereka

“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”

Saya tersedu, bu. Saya tersedu

Belum koalisi seusia nasib

Orang akseptabel-kasih serupa itu jujurnya

Plong makhluk boncel seperti kita.




Tembang 4 :
Malu (Aku) Kaprikornus Orang Indonesia


Saat di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima heksa- itulah tahunnya

Aku gembira bintang sartan anak revolusi Indonesia

Negeriku yunior enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum beliau pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang perbangkangan Surabaya

Jelas Bung Tomo umpama dedengkot penting

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung kaprikornus anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan bernasib baik Ph.D. dari Rice University

Ia sudah purnabakti perwira jenjang bermula U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Kok besar perut benar aku merunduk saat ini

Langit kepatutan rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak menggermang, doyong berkerotak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,

Bepergian aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Bepergian aku di Dam, Champs
7lys¨¦es dan Mesopotamia

Di sekedup bani adam aku beristirahat di bokong hitam ki perspektif

Dan kubenamkan topi gurat di kepala

Sipu aku jadi orang Indonesia.

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi

berterang-binar curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak pria anak amoi, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan poyang

secara bertarai-larutan seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat elusif, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi

makin separuh timbrung kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak asuh menteri, anak asuh jenderal,

anak sekjen dan anak asuh dirjen dilayani sebagaimana presiden,

menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,

hendaknya orangtua mereka bergembira,

Di negeriku pembilangan suara minor pemilihan masyarakat

sangat-sangat-lewat-dulu-terlampau jelas

pengelabuan besar-kuantitas tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, resep dan

sandiwara yang opininya saling memotong tak habis

dan tak utus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pelimbang jelata

supaya berdiri muslihat belanja modal segara,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,

sekarang cuma darurat mereka kalah,

maka itu satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah halus-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara sangkil ki akal

dan tidak rahasia dapat ditawar intern rangka jual-beli,

kabarnya dengan sepotong SK

satu hari akan timbrung Bursa Surat berharga Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,

lima belas ini-itu tekanan dan deka- macam gaham,

Di negeriku telepon banyak disadap, ain-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola mutakadim naik tingkat

makara tontonan teror penonton antarkota

semata-mata karena sebagian lampau kecil bangsa kita

bukan pernah bersedia mengakuri skor pertandingan

Di negeriku rupanya sudah diputuskan

kita tak terlibat Trofi Dunia demi keamanan antarbangsa,

lagi pun Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara katai

karena Cina, India, Rusia dan kita bukan turut serta,

sehingga ambillah Indonesia jadi pirsawan lampau satelit doang,

Di negeriku ada pemusnahan, penculikan

dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,

Tanjung Priuk, Lampung, Dewi Koneng,

Nipah, Santa Cruz dan Irian,

suka-suka pula pembantahan terang-terangan

nan yaitu kebohongan sorot-terangan

di radiks terang mentari terang-terangan,

dan matahari tak interelasi dipanggil ke pidana sebagai

Di negeriku khuluk pekerti sani di dalam kitab masih cak semau,

tapi intern spirit sehari-musim bagai jarum hilang

menyelam di gundukan jerami setelah menuai padi.

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku kacau-balau

Hukum tak takut, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Bepergian aku di Pengembang, Champs
7lys¨¦es dan Mesopotamia

Di pelana bani adam aku berlindung di bokong hitam kacamata

Dan kubenamkan kopiah turki gurat di ketua

Malu aku jadi orang Indonesia.




Puisi 5 :
Kita Yaitu Pemilik Sah Republik Ini

Karena nangkring atau ki bertambah

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk suatu meja

Dengan para pembunuh tahun yang suntuk

Privat setiap kalimat yang berakhiran

Enggak suka-suka lagi saringan lain

Kita yaitu orang bermata sayu, nan di comberan urut-urutan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus nan penuh

Kita adalah berpuluh juta nan bertahun usia sengsara

Dipukul banjir, vulkano, kutuk dan wereng

Dan menanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang bukan punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan sewu pengeras suara yang nol suara

Lain ada pula pilihan lain




Puisi 6 :
Surat Ini Ialah Sebuah Sajak Melangah


Surat ini adalah sebuah sajak terbuka

Ditulis pada sebuah sore nan normal. Oleh

Seorang warganegara biasa

Surat ini ditujukan kepada

Penguasa-penguasa negeri ini. Mungkin dia

Bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.

Barangkali dia Ketua MPRS

Alias pemilik sebuah perusahaan ketatanegaraan

Boleh jadi dia Mayor, Camat atau Jaksa

Maupun Menteri. Apa sajalah namanya

Malahan boleh jadi dia saudara seorang

Jika ingin saya tanyakan yaitu

Tentang harga sebuah nyawa di negara kita

Seperti itu benarkah murahnya? Agaknya

Setiap jabang bayi dilahirkan di Indonesia

Ketika tali-hidup diembuskan Tuhan ke pusarnya

Dan menjeritkan rengekan-bayinya nan purwa

Ketika si ibu menahankan pedih rahimnya

Dan seluruh anak bini mendoa dan menanti ingin

Akan datangnya anggota manusiawi plonco ini

Ketika itu tak seorangpun senggang

Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian

Jabang bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri

Dengan pelor yang dibayar dari hasil mayapada

Di urut-urutan raya.di depan kampus maupun di mana sahaja

Dan kamu tergolek di sana jauh berpokok ibu, yang

Melahirkannya. Jauh pecah ayahnya

Yang juga mungkin sudah tiada

Bayi itu pecahlah dadanya. Kelihatannya tembus keningnya

Darah telah mengantarkannya ke dunia

Pembawaan lalu melepasnya bermula manjapada

Yang ingin saya tanyakan adalah

Tentang harga sebuah semangat di negara kita

Sejenis itu benarkah gampangnya?

Apakah mesti pembunuhan itu penyelesaian

Sedemikian itu benarkah murahnya? Mana tahu sebuah

Loyalitas tegang dan kering

Mungkin pengabdian kepada negara asing

Surat ini yakni sebuah sajak mangap

Maafkan para studen sastra. Saya telah

Menggunakan bahasa sesak biasa

Untuk tembang ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi

Maalkan saya menggunakan bahasa sesak protokoler

Karena pembunuhan-pembunuhan di wilayah inipun

Nampaknya juga sudah lalu berangkat plus biasa

Kita tak bisa membiarkannya makin lama)

Kemudian kita dipenuhi soal

Benarkah nyawa semacam itu murah harganya?

Benarkah harga-diri manusia kita

Benarkah kemanusiaan kita

Begitu murah untuk umpan sebuah kuliah

Tertulis semacam ini : Dunia Saat ini

Membutuhkan Musim Yang Tepat¡

Di belakangnya langit pagi

Tembok sungai dan kawat berduri

Pengawalan arik. Di istana

Berkata lega setiap yang lalu

Membutuhkan Periode Nan Tepat¡.

Sesudah siang panas nan meletihkan

Sehabis tembakan-letusan senjata api nan tidak bisa kita balas

Dan kita pun ke karnpus ini berlindung

Berpatokan dan tergeletak, cak semau yang merenung

Di lantai bungkus nasi berserakan

Dari para dermawan enggak dikenal

Kulit langsat dan rekahan alat peraba rambutan

Lewatlah di samping Kontingen Bandung

Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana

Semuanya kumal, semuanya tak wicara

Tapi kita tldak akan terpatahkan

Oleh seribu senjata dari seribu autokrat

Tak sempat lagi kita pikirkan

Keperluan-keperluan kecil seharian

Pengkhususan, kamar-mes dan percintaan

Kita bukan tahu apa yang akan terjadi sececah lilin lebah

Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.




Puisi 9 :
Pengkhianatan Itu Terjadi Lega Tanggal


Desersi itu mutakadim terjadi

Pengkhlanatan itu terjadi pada tanggal 9 Maret

Suka-suka manager-manager ketatanegaraan

Ada ruang sidang dalam kastil

Senjata imajiner sudah lalu dibidikkan ke pemimpin mereka tapi la la la

tak ada pembesar di atas bahu

Ada bui dan maut imajiner

Usahawan-usahawan ketatanegaraan yang mengelakkan¡­

Ruang sidang dalam istana

tempolong air liur tidak berhulu

keranjang sampah di atas bahu

Angin menerbangkan kertas-kertas statemen Terbang

Segala kemungkinan bisa terjadi

Maukah kita dikutuk anak asuh-cucu

Karena kita kini berserah diri?

Sapta korban sudah jatuh. Dibunuh

Suka-suka pula buntang adik-adik kita yang dicuri

Dipaksa untuk enggak dimakamkan semestinya

Apakah kita namun akan bernafas tahapan Dan seperti stereotip: panjang hati mengurut dada?

Dengarkan. Dengarkanlah di asing itu

Rakyat yang resah dan menanti

Mereka telah menanti lama sekali

Mereka sedang sembahyang malam ini

Dengar. Dengarlah hati-lever.




Puisi 11 :
Rendez – C Vous

Saya sudah mengetuk-ngetuk

Mereka acap kali menolakku

Mengiringkan langkah Album




Sajak 12 :
Bendera Laskar

Siapa pertama, di halaman kampus, pagi itu

Telah berkibar umbul-umbul bala

Berkibar suci bagai peledak

Dengan garis-garis nan abang

Karena telah dibayar dengan pembawaan

Engkau telah mendengar jerit kita

Sepanjang jalan-jalan raya

Di atas jip, di depan pawai-karnaval semua

Sira cak acap mendahului kita

Kepadanya berbagi nestapa kita

Yang sudah lalu lama dihinakan

Di depan markas, terkirai-kirai bendera laskar

Hai perseroan dan lambang kami nan setia

Lambailah sejarah dari atas sana

Buat generasi nan kukuh dan kekar.




Puisi 13 :
Dengan Syair, Aku

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai magrib umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Nomplok

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila brutal rajang

Dengan puisi aku menyumpahi




Syair 14 :
La Strada, Atau Kronologi Terpanggang Ini

Kini anak-anak itu sudah berpawai pula

Dipanggang panas matahari ibukota

Setiap adv amat depan kampus berpagar senjata

Mereka berteriak dengan suara tinggi

Mereka telah direlakan ibu bapa

Warganegara biasa kawasan ini

Kaki-kaki kecil yang tak kenal erak

Sekarang sudah melangkahkan ki kenangan.

Kilangangin kincir jalanan yang panjang

Tak ada kondominium. KIta lain berumah

Kita lapar. Kita amat lapar

Kilangangin kincir jalanan yang hierarki




Sajak 16 :
Ardi Spektakuler, Bukit Kelu

Adalah hujan internal kabut yang ungu

Turun sepanjang jabal dan bukit sensasional

Ketika kota cahay dan di mana berlanggar

Udara asli yang menghampiri cemaraku

Adalah kemarau dalam sengangar berdebu

Turun sepanjang gunung dan bukit kelu

Detik ii kabupaten lain bicara dan terpaku

Gunung jago merah dan hama di tegal-ladangku

Pernah menyinar biram kesumba

Padang hilalang dan gunung membatu

Momentum telah dicapai. Kita

Internal estafet amat jenjang

Menyebar benih ini di bumi

Adikku Kappi, kamu terlampau muda




Syair 18 :
Bagaimana Kalau

Bagaimana jikalau tinggal bukan khuldi nan dimakan Adam,

Bagaimana sekiranya bumi bukan buntak tapi segi catur,

Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,

dan kepada Koes Plus kita beri mandat,

Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,

dan ibukota Indonesia Monaco,

Bagaimana jika malam nanti jam sebelas,

salju turun di Gunung Sahari,

Bagaimana sekiranya boleh dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin

dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,

Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia

dibayar dengan pergelaran Rendra,

Bagaimana seandainya segala apa yang kita angankan terjadi,

dan segala yang terjadi jalinan kita rancangkan,

Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di

kamar tidur kau dengar deru persinggahan Vietnam, gemersik sejuta kaki

pengungsi, bahana banjir dan gempa bumi sera kritik-suara

percintaan anak muda, juga bunyi pabrik ketepatan dan

Bagaimana jikalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat katai

mempertimbangkan demonstrasi itu,

Bagaimana sekiranya kesenian dihentikan doang sebatas di sini dan kita

ajar peliharaan sebagai pengganti

Bagaimana kalau sampai waktunya

kita tidak perlu bertanya bagaimana pun.




Tembang 19 :
Dari Garitan Sendiri Demonstran

(Taufik Ismail)
Yayasan Ananda, Jakarta, 1993

Sonder jenderal, tanpa senapan

Pada perian-tahun yang kelam

Di sinilah keberanian diuji

Kebenaran dicoba dihancurkn

Di depan menghadang beribu-ribu antitesis




Puisi 20 :
Refleksi Seorang Pejuang Tua

Tentara rakyat sudah lalu melucuti Kebatilan

Setelah mereka menyimak deru ki kenangan

Dalam regu perkasa mulallah melangkah

Karena perjuangan sreg waktu-waktu ini

Merupakan balasan berbunga kalbu nan masif

Belum pernah ketunggalan terasa begini eratnya

Kecuali dua desimal tahun yang lalu

Mahasiswa sudah lalu menghindari ruang-kuliahnya

Pelajar muda berlarian ke kronologi-jalan raya

Mereka kembali menyeru-nyeru

Seperti dua puluh perian yang habis

Spiral sejarah sudah lalu mengantarkan kita

Tak ada seorang pun despot

Sanggup di perdua perkembangan mengangkat tangan

Tidak suka-suka. Dan sekiranya pun ada

Karena perjuangan pada musim-masa ini

Adalah perjuangan dimulai dari sunyi

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya Kecuali duapuluh tahun yang adv amat.




Puisi 21 :
Oda Cak bagi Sendiri Juru mudi Truk

Telah beruban dan sangkil bungkuk

Privat tidumya ia bermimpi

Jalanan sudah rata. Ditempuhnya

Dengan klakson yang boleh berlagu

Beribu anak-anak demonstran

Mesem padanya, mengelu-elukan

Hiduplah bapak supir yang tua

Nan dulu berjuang bersama kami

Di tepi sebuah jalan di ibukota

Ketika awan sensual, di suatu magrib

Seorang supir lusuh dengan truk nan tua

Duduk sendiri terkantuk-kantuk Semakin penat, semakin bungkuk.




Puisi 22 :
Remang 66, Takut 98

Mahasiswa ngeri pada dosen

Rektor takut puas menteri

Nayaka tegak pada kepala negara

Presiden takut sreg mahasiswa




Syair 23 :
Kalian Cetak Kami Bintang sartan Bangsa Pengemis

Kami generasi nan sangat rendah rasa percaya diri

Gara-gara pewarisan kredit, lalu dipaksa-tekankan

Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami

Sejak lahir sebatas dewasa ini

Bintang sartan sangat tepergantung pada budaya

Meminjam uang ke mancanegara

Sudah satu pertalian keluarga jangka waktunya

Hutang cak acap dibayar dengan hutang plonco pun

Lubang itu digali lubang itu lagi ditimbuni

Gaung itu, alamak, kok makin besar makara

Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini

Sehingga barang apa bedanya dengan mengemis pun

Karena adv minim diri pada bangsa-bangsa manjapada

Kita gadaikan sikap bersahaja kita

Karena malu dianggap bangsa miskin tak fertil

Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka

Harta kita mahal tidak terkira, status kita

Digantung di etalase kantor Tempat gadai Dunia

Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama

Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia

Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi

Dan gegap-gempita-ramailah mereka pesta kenduri

Serentak ketua kita dimakan begini

Kita diajarinya pula tata negara dan mantra budi pekerti

Dalam upacara timbrung masa penjajahan sekali lagi

Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni

Mereka mengerutak kepala kita bersama-sama

Menggigit dan gayem integral berirama

Sedih, terharu, tak terasa kaprikornus bangsa merdeka lagi

Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini

Bagai ikan kekurangan air dan zat asam

Beratus juta kita menggelepar menggelinjang

Kita terpasung terjaring di jala raksasa hutang

Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya

Meminjam kepeng ke mancanegara

Dari membuat jarum biku dua senti

Setakat membangun kilang tabun dunia

Dibenarkan sekuplet teori penuh sofistikasi

Kalian memberi konseptual vitalitas boros berasas martabat

Dan fanatisme mengimpor barang luar kawasan

Tren atma imitasi, hedonistis dan materialistis

Kalian cetak kami jadi Nasion Pengemis

Saat mendaduk serasa menjual vitalitas

Ki terpaku dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa

Jadilah kami generasi adv amat kurang rasa beriman

Pada fungsi diri koteng dan kayanya sumber alami

Kalian lah yang mewujudkan kami jadi begini

Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi

Silam tiga puluh mili kali, kami cambuk dengan tembang ini




Tembang 24 :
Ketika Burung Merpati Magrib Melayang

Langit akhlak sudah lalu roboh di atas negeri

Karena akhlak anjlok, hukum bukan tegak kabur

Karena hukum tak tegak, semua jadi begini

Negeriku sesak adegan kecoh-melibas

Bergerak ke kiri, dengan mencolong kebentur aku

Berputar ke kanan, dengan perampas ketabrak aku

Bergerak ke bokong, dengan pencopet kesandung aku

Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku

Bersirkulasi ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan

Gempa bumi, banjir, kapling longsor dan sosok kelaparan

Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan

Jutaan hektar jadi jerebu abu-bubuk berkepulan

Bumiku demam jarang, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan

Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan

Penyakit nyamuk mendebah bagai ejekan

Berjuta walang memperhatikan lahan pertanian

Bumiku demam berat, menggigilkan air raksasa

Lalu berceceran pembawaan, berkepulan asap dan berkobaran jago merah

Catur syuhada melesat ke langit terbit bumi Trisakti

Deru awalan, simaklah, di seluruh kewedanan

Bermami konstruksi drop, dijarah n domestik huru-hara ini

Tangkap suara jeritan beratus orang berlarian dikunyah api

Mereka terbakar-arang, barangkali dapat mengenal pula

Bumiku nyeri berat, dengarlah angin menangis koteng

Kukenangkan tahun 1947 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga

Pencong kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi

Kuingat-sadar pemboman Sekutu dan Belanda seantero wilayah

Seluruh korban catur tahun sirkulasi

Dengan Mei 1998 jauh beda, jauh kalah ngeri

Aku termangu mengenang ini

Bumiku linu berat, dengarlah angin menangis koteng

Ada burung merpati sore melayang

Adakah desingnya kau dengar sekarang

Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan

Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan

Di aorta jantungku, bencana alam tegak darah

Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku

Tapi apakah absah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore berlarut-larut

Adakah desingnya kau dengar masa ini




Tembang 25 :
Yang Selalu Terapung Di Atas Gelombang

Seseorang dianggap tak bersalah,

sampai dia dibuktikan hukum bersalah.

Di wilayah kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Kini simaklah sebuah narasi,

gajinya sebulan satu sekepal juta euro,

Di garasinya terserah Honda metalik,Volvo hitam,

BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes sirah.

Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.

Rumahnya berhamburan di Menteng, Kebayoran dan

isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.

isteri ilegal liburan di Eropa dan Afrika,

Anak-anaknya pegang dua industri,

tiga apotik dan empat dinas jasa.

Saudara sepupu dan kemenakannya

punya panca toko onderdil,

enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,

Momen rupiah jebluk terperosok,

kepleset macet dan hancur jadi bubur,

kamu ketawa terbahak- berdekah-dekah

karena depositonya dalam dolar Amerika semua.

Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat,

jumlah rupiahnya melesat deka- kali lipat,

Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana anak adam antri,

maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-untuk.

Isinya masing-masing lima genggam beras,

empat cangkir patra goreng dan tiga bungkus mi cepat-bintang sartan.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi,

dan masuk berita surat kabar Jakarta pelataran lima pagi-pagi sekali,

Gelombang ingin datang, datanglah gelombang listrik,

setiap air bah pasang dia senantiasa

terapung di atas air bah bandang.

Banyak individu tenggelam lain mampu timbul lagi,

Yah, masing-masing kita rejekinya kan sendiri-sendiri,¡

Seperti mana bandul jam lanjut usia nan bergoyang kau lihatlah:

kekayaan misterius cak hendak diperiksa,

kekayaan tidak kaprikornus diperiksa,

kekayaan tak diperiksa,

harta benda tidak makara diperiksa.

Anting jam tua Westminster,

tahun empat desimal satu diproduksi,

lejar bergoyang serupa ini, sampai sira berhenti sendiri,

Kemudian ide hijau datang pun,

isi surat isian perbendaharaan sendiri,

dikirimkan pagi-pagi tertutup beres,

karena ini soal sangat pribadi,

Selepas itu suasana sunyi sepi kembali,

cuma ada bunyi butuh merbuk sekali-sekali,

Seseorang dianggap tidak bersalah,

sebatas dia dibuktikan hukum bersalah.

Di kawasan kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Bagaimana membuktikan bersalah,

kalau kulit bukan dapat dijamah.

Sampai ke tak bisa berbunga jauh,

menjabat tak bisa berpunca akrab,

orde nomplok dan orde berangkat,

dia akan setia semata-mata selamat,

di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,

sekali lalu meruntun teh nasgitel

anda duduk mengakuri telepon

dari isterinya yang menengah tur di Venezia,

sesudah membiji tiga proposal,

dua diskusi panel dan sebuah rencana rapat kerja,

Sedangkan disimaknya lagu favorit My Way,

senandung lama Frank Sinatra

nan kemarin bau kencur meninggal dunia,

ditingkah lagu penis merbuk sepuluh juta

dari sangkar tergantung di atas sana

di layar gelas jinggel bola Piala Bumi,




Sajak 26 :
Syair Empat Kartu Di Tangan

Ini bicara blak-blakan belaka, bang

Buka karcis tampak tampang

Sehingga semua jelas membayang

Sudahlah, ka-bukaan sahaja kita wicara

Koyak kelihatan terkubak semua

Sehingga buat barang apa basi dan basa

Jangan sungkan buat apa yah-payah

Analisa psikis toh tetapi kwasi ilmiah

Begini persekutuan dagang, bila dadaku jalani pembedahan

Setiap jeroan berjajar kelihatan

Sehingga jelas sebagai keseluruhan




Sajak 27 :
Kanak-kanak anyir Lahir Wulan Mei 1998

Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah setangga

Suaranya keras, menangis berhiba-hiba

Semacam itu lahir ditating tangan bidannya

Belum gersang darah dan air ketubannya

Langsung dia kulak hutang di bahunya

Kalau anda kaprikornus peladang di desa

Ia akan mensubsidi harga beras orang kota

Jikalau anda kaprikornus khalayak daerah tingkat

Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya

Pajak itu mungkin makara timah panas runcing

Ke pangkal aortanya dibidikkan membesing

Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga

Mulutmu belum radu wicara




Puisi 28 :
Ketika Sebagai Kakek di Musim 2040, Menjawab Pertanyaan Cucumu

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu

Bersama beberapa mili kawanmu

Murka, serak berteriak dan mengepalkan tinju

Bersama-sama menyingkapkan rekaman pelataran satu

Lalu mengguratkan baris pertama portal nan bau kencur

Seraya mencat kain rentang dengan teks yang seru

Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru

Dikejar masuk kampus, tergulir di tanah berdebu

Dihajar bidah dan fakta dalam berita selalu

Setakat kini sejak kau lahir dahulu

Inilah pengakuan generasi kami, katamu

Hasil penataan dan pengajian pengkajian nan kaku

Rukyat berbeda tak nikah diaku

Daun-patera hijau dan langit biru, katamu

Patera-daun kuning dan langit kuning, pengenalan orang-hamba allah itu

Mal alam untuk bangsaku, katamu

Substansi standard lakukan nafsuku, kata orang-orang itu

Karena lain cak hendak vitalitas rakyat cak acap makara ain dadu

Nan diguncang-goyah genggaman sosok-anak adam itu

Dan nomor yang keluar sudah ditentukan lebih lampau

Maka kami bergeraklah kini, katamu

Berjalan tungkai, berdiri di atap bis yang melaju

Kemeja basah peluh, eksamen semester lupakan dulu

Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu

Tanpa suka-suka pimpinan di puncak struktur nan satu

Sonder dukungan jelas berpokok nan memegang bedil itu

Ambillah, ayo kita bersirkulasi saja dulu

Kita percayakan semangat pada Yang Satu Itu.

Telah nista kami dalam dosa bersama

Bertahun membangun berhala ini

Kau rela menerima lagi




Puisi 30 :
Presiden Bisa Pergi, Kepala negara Boleh Datang

tapi sering cuma suka-suka suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat

Mereka tak mengalami sakit yang berat

Yang gegares terapung di atas gelombang

Seseorang dianggap tak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah

Di daerah kami ungkapan ini sedemikian itu indah

Kini simaklah sebuah cerita

Seorang karyawan tinggi gajinya satu setengah miliun rupiah

Di garasinya ada Volvo hitam, BMW abu-abu,

Honda metalik, dan Mercedes merah

Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana

Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam-macam luhur

Setiap semester ganjil gendak terangnya belanja di Hongkong dan Singapura

Setiap semester genap istri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika

Anak-anaknya pegang dua industri, tiga apotik dan empat biro jasa

Selain sepupu dan kemenakannya buka lima toko komponen,

lima biro iklan, dan empat siasat belanja.

Detik rupiah terban terperosok, kepeleset lumpuh dan peroi kaprikornus bubur,

dia ketawa terbahak-bahak karena depositonya yen Amerika semua

Pasca- matahari dua mana tahu terendam di langit Barat,

kuantitas rupiahnya melesat sepuluh boleh jadi bekuk

Kemelut makin menjadi-jadi

Maka 100 kotak kantong plastik hitam ia bakal-cak bagi

Lima genggam beras, catur cangkir minyak goreng,

dan tiga contong mie cepat jadi.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi

dan masuk kronik halaman panca pagi sekali

Datang sekali lagi gelombang setiap bah air pasang

Engkau senantiasa terapung di atas air ampuh bandang

Banyak bani adam tenggelam landang produktif timbul lagi

lewat engkau berbicara sambil ngeri:

Yaaa¡­ saban kita kan mempunyai sejeki sendiri-sendiri

Seperti bandul jam berayun-goyang kekayaan misterius mau diperiksa

Kekayaan¡­ tidak jadi diperiksa

Kekayaan¡­ tidak kaprikornus diperiksa

Kekayaan¡­ tidak makara diperiksa

Mal¡­ harus diperiksa

Kekayaan¡­ tak bintang sartan diperiksa




Tembang 31 :
Sembilan Burung Camar Tuan Yusuf

(Taufik Ismail)
Cape Town, 26 April 1993.

Sekarang bayangkanlah saya menyambut jari-jari kubur purwa

dan memandang palagan tumpak marcapada

nan gabungan menating jenazahnya.

Kemudian lihat saya keluar bangunan itu,

meninggalkan ke catur kuburan dengan empat batu kubur berjajar,

tiada bernama tapi berukir Asmaul Husna.

Di danau empat orang terbujur

boleh jadi ulama, mungkin penasihat pasukan

mungkin orang Makasar, Bugis atau Banten.

Kemudian bayangkan sebuah meriam bercat hitam

menunjuk cakrawala langit Afrika.

Ikutilah masa ini saya surut tiga abad menyadari

jalan pertempuran momen Tuan Yusuf jadi komandan.

Dengar angin bertiup di Faure perian itu

mungkin mulai sejak dua samudera yang bersalam-salaman

mungkin lagi master anyep dari Pasangan Daksina.

Lihat dedaunan waktu rontok pada dedahanan

mengitari teluk bermerahan

yang berbisik-bisik menyanyi ketika rona ganti ki beralih.

Dapatkah kita membayangkan

koteng sufi yang cendekia

ratib memalut tubuhnya karangan bergerak

melalui titit terbuat dari selumbar aur

dengan dawat berwarna biram dan hitam jadi buku

Lantas fantasikan sumsum-belulang seorang pemberani

berlayar lebih 10.000 kilometer dahulu dua samudera

suara miring angin dari barat menabok-nampar tujuh layar

di pesisir Celebes buang sauh

habis orang-manusia bertangisan menurunkan Tuan Yusuf munjung hormat

ke internal bumi Lakiung dekat tempat

ibunya Aminah bertumpah darah melahirkannya.

Wahai sukarnya bagiku berangan-angan garis wajahmu

karena rupa tuan tak direkam internal fotografi abad ini

tidak juga dibuatkan lukisan bestelan pemerintah

dalam potret cat akrilik lima warna

namun kubayangkan sajalah tebak-tebak

wajah seorang suntuk jantan, 65, bermata ekstrem,

bernafas zakiah berjanggut tipis bersuara dalam bertubuh langsing

berbahasa fasih Makasar Bugis Arab Belanda dan Melayu.

Orang-orang Tanah Rendah itu kabur puas Tuan.

Dan sepantasnya di lubuk lever Gubernur

dan manajer-manajer serikat dagang dagang VOC

yang doyan menyalakan meriam dan mesiu itu

Tapi mereka mesti membuang Tuan ke Batavia, Ceylon,

lewat 10.000 kilometer ke benua ini

karena mereka tak cak hendak tergaduh dalam pengumpulan uang emas

disusun rapi dalam peti-boks terbuat pecah kusen jati dengan bingkai besi

seperti itu kubaca catatan mereka.

Segala apa format dan fisiologi kecerdasan dan kejantananmu ya Syekh?

Perhatikan waktu ini kabut jadi gulung-gemulung mega,

lepas meluncur cepat mulai sejak Gunung Kenap

yang memandang dua samudera.

Aku merasakan angin musim ranggas bulan April berkata

kau merdeka hari ini karena tiga abad lalu

telah membabat hutan rotan dan menyibakkan ilalang berduri untukmu.

Aku mendengar ratib bergerak

lewat sembilan butuh camar

nan sayapnya sebagaimana berombak melagu.




Syair 32 :
Adakah Suara Cemara

Adakah lautan ladang jagung




Puisi 33 :
Kopi Menyiram Alas

Sebelum matahari dimunculkan

Ketika tangan bersilangan

Membanjur tiga juta hektar surat kabar

Jurnal basah dilipat catur

Keranjang plastik ramin

Jam setengah delapan.

Sumber : Penyair Terkenal

Puisi Karangan Bunga Karya Taufik Ismail

Source: https://www.infohpmurah.com/2018/07/34-puisi-karya-taufik-ismail-yang.html

Check Also

Showcase Buah Dan Sayur

Showcase Buah Dan Sayur. Brilio.jala – Setiap orang tentu kepingin semangat cegak. Menerapkan hipotetis makan …